Minggu , Agustus 19 2018
Home / Catatan Perjalanan / SEMERU. Aku Rindu.

SEMERU. Aku Rindu.

PMTG Adventure in Semeru

Sore itu setelah registrasi di Balai Taman nasional Bromo Tengger Semeru  (TNBTS) Pos Ranupane, kami bertujuh mampir dulu ke warung di seberang Pos untuk makan siang yang kesorean. Sekitar setengah jam kemudian, kami akhirnya memulai langkah pertama untuk menggapai Atap Jawa. Mahameru.

Adalah Kakek, Ian, Agus, Pethul, Sulis, Cebret, dan aku sendiri. Kami memulai perjalanan panjang ini dari Jogja, naik kereta hingga Malang, lalu dilanjutkan dengan truk sampai desa Ranupane, satu-satunya pintu masuk pendakian gunung Semeru.

JALUR BERDEBU

Jengkal demi jengkal kami tapaki jalanan aspal hingga ujung desa, lalu masuk ke gapura bertuliskan SELAMAT DATANG PARA PENDAKI GUNUNG SEMERU. Kami masuk, jalur berganti menjadi tanah. Bulan September yang kering membuat jalan tanah juga kering dan berdebu. Otomatis, kaki dan celana langsung kotor. Tapi kami tetap berjalan seperti biasa, karena debu dan tanah tak bisa dipisahkan dari jenis petualangan yang kami pilih ini.

Satu jam berjalan kami sampai di plang pertama, Landengan Dowo, dan hari sudah hampir berganti malam. Jalur pendakian masih relatif landai, berupa paving blok yang cukup untuk 2 orang yang berpapasan. Kami masih berbincang-bincang sembari berjalan karena stamina masih bisa dibilang penuh. Dan kami menikmati perjalanan ini.

Pos I, Pos II, meski sebentar, kami sempatkan istirahat di shelter-shelter yang telah dibangun dengan baik. Cukup luas, kokoh, dan nyaman. Senter-senter sudah mulai dinyalakan sejak tadi, karena malam telah datang saat kami sampai di Pos I. Di Pos III pun kami juga istirahat sebentar, melepaskan keril dari punggung untuk sejenak. Berbincang, makan cemilan, minum, dan menghisap bagi mereka yang ahli hisap. Tepat setelah pos III inilah tanjakan paling ‘sadis’ yang kami temua sejak kami berjalan dari Gapura Pendakian. Debu yang menutupi membuat tanjakan ini menjadi cukup licin. Debu yang beterbangan tersaruk langkah juga cukup mengganggu pernapasan, dan juga mata.

Sampai di ujung tanjakan, jalur kembali landai, dan perlahan-lahan semakin menurun. Bonus, pikirku menyemangati diri sendiri. Stamina tentu saja sudah berkurang, mungkin tinggal setengah. Namun kaki tetap harus melangkah, karena kami berencana untuk mendirikan tenda di Ranu Kumbolo.

Jam 9 malam kami sampai di pos IV, dari sini terlihat Ranu Kumbolo di bawah pancaran purnama, meski tak terlalu jelas. Di ujung sana juga terlihat kerlap-kerlip lampu senter dan api unggun yang lidah apinya menari-nari menyambut malam yang cerah ini.

Semangat kembali terpacu. Kami segera melanjutkan langkah menuruni bukit agar segera sampai dan segera istirahat sepuasnya. Suhu udara malam ini cukup dingin, karena kami tetap merasa kedinginan walaupun berjalan memanggul keril yang cukup berat. Kelelahan dan kedinginan membuat beberapa teman sedikit emosi karena tak segera sampai. Kami sudah sampai di pinggir danau, sebagian ingin segera mendirikan tenda, dan sebagian lagi ingin berjalan sedikit lagi untuk sampai di area camp Ranu Kumbolo yang tadi terlihat dari Pos IV. Akhirnya aku berjalan naik mengikuti jalan setapak untuk memastikan dimana kami akan mendirikan tenda. Sementara yang lain berhenti dulu di pinggir danau di pertigaan Jalur Ayek-ayek.

Tak berapa lama aku kembali ke rombonganku yang menunggu. Setelah sedikit berdiskusi, akhirnya kami putuskan untuk berjalan lagi. Meski lelah, tapi kebersamaan dengan teman-teman bisa membuat kita memiliki energy lebih.

Tak sampai 15 menit, akhirnya kami melihat plang SELAMAT DATANG DI RANU KUMBOLO. Alhamdulillah. Kami segera mencari lokasi yang cukup datar untuk mendirikan tenda. Dan kami memilih di barisan terdepan, di pinggir danau, dekat dengan air, dan berharap mendapat pemandangan indah dari dalam tenda esok paginya.

PAGI YANG BEKU.

Pagi ini dingin sekali. Kabut pun masih menggelayut di atas permukaan danau. Sunrise pun terlewatkan karena hanya abu-abu yang terlihat. Kami duduk-duduk di antara 2 tenda kami sambil menyeduh kopi. Berharap kabut cepat pergi dan menampilkan surga yang tersembunyi. Ya. Kata orang, Ranu Kumbolo adalah surganya gunung Semeru. Yang selama ini baru bisa kunikmati dari dunia maya. Dan pagi ini, aku menunggunya dengan sabar dan kedinginan.

Kabut mulai menghilang saat matahari sudah cukup tinggi. Dan kini Ranu Kumbolo terpampang sempurna di depan mata. Asli. Dan tiba-tiba speechless.

PMTG Adventure in Semeru
PMTG Adventure in Semeru

Aku segera mengabadikan pemandangan ini. Setiap sudut, berbagai angle, walaupun aku tak mengerti soal fotografi, dan aku hanya memakai kamera pocket pinjaman temanku. Namun setidaknya, ada yang bisa dikenang suatu hari nanti. Pagi yang cerah, langit biru, dan Ranu Kumbolo yang syahdu.

Kami segera memulai aktivitas yang paling menyenangkan dalam setiap perjalanan kami. Masak. Nasi, tumis buncis, tempe goreng, sarden, dan mie menjadi menu pagi (agak siang) itu. Beruntunglah kami punya 2 chef yang bisa diandalkan. Pethul dan Cebret, satu-satunya perempuan dan satu-satunya anggota tim ini yang pernah mendaki Semeru, meskipun hanya sampai Kalimati.

Waktu berjalan cepat, matahari semakin tinggi melewati batas tengah. Kami segera mempersiapkan diri untuk perjalanan selanjutnya. Walaupun perjalanan hari kedua ini hanya sekitar 4 jam, namun kami tak ingin kemalaman di jalan. Karena menikmati pemandangan saat berjalan juga merupakan kesenangan yang tak bisa didapat di waktu malam. Setelah packing selesai, kami kembali melangkahkan kaki di jalur pendakian. Mendaki Tanjakan Cinta. Ada mitos tentang Tanjakan Cinta yang pasti sudah banyak yang tahu. Jika kita mampu berjalan sampai ujung Tanjakan Cinta tanpa berhenti dan tanpa menoleh ke belakang sambil memikirkan seseorang yang kita cintai, maka impian tentang cinta kita tersebut akan terkabul. Mitos.

Sebenarnya tanjakannya sama seperti tanjakan-tanjakan lainnya. Relatif landai. Dari Ranu Kumbolo, Tanjakan Cinta terlihat tak terlalu tinggi dan jauh, tapi saat dijalani ternyata cukup lama juga untuk sampai di ujung tanjakan. Dan berjalan tanpa berhenti dan tanpa menoleh ke belakang memang berat. Tapi asal tahu saja, justru dari tanjakan cinta inilah pemandangan Ranu Kumbolo terlihat sangat indah. Jika cerah tentunya.

LANDAI TAPI BERAT

Setelah cukup beristirahatdi atas taanjakan fenomenal ini, kami mulai berjalan lagi. Melipir bukit, dan Savana Oro-oro Ombo menyambut kami. Oro-oro Ombo adalah lembah dengan rerumputan setinggi pinggang, bahkan punggung orang dewasa dengan jalan setapak membelah di tengah. Ada 2 jalur dari sini, yang pertama langsung menuruni lembah dan berjalan diantara rerumputan, dan yang kedua berjalan melipir bukit dan berujung di rerumputan di ujung sana. Aku dan pethul memutuskan untuk memilih jalur kedua, karena dari sana kami bisa melihat indahnya Oro-oro Ombo, dan masih tetap bisa menikmati berjalan diantara rerumputan. Dari jalur atas ini, teman-temanku yang lain terlihat kecil sekali. Sekecil saat mereka melihatku dari bawah sana. Oro-oro Ombo adalah tempat yang indah untuk berfoto, dan India-india-an. Rerumputan abu-abu keringnya, bunga Verbena yang menjadi coklat, perpaduan yang indah dengan siang yang cerah.

Setelah rerumputan tinggi, kami melewati padang terbuka dengan rerumputan pendek khas padang rumput hingga sampai di Hutan Cemara. Di sini terdapat Plang CEMORO KANDANG. 2,5 Km dan 1 jam dari Ranu Kumbolo. Kami beristirahat sejenak, duduk-duduk di batang pohon yang tumbang sambil tetap berbincang dan bercanda.

Kanopi hutan Casuarina junghuhniana  di sepanjang jalur pendakian ini tak begitu lebat, sehingga cahaya matahari dengan bebas menembus hingga lantai hutan. Jalur ini sebenarnya tidak terlalu nanjak menurutku, namun entah mengapa aku merasa cepat lelah, dan sering berhenti. Begitu juga teman-temanku yang lain. Namun kami tetap menikmatinya. Anggap saja bersusah-susah dahulu, setelah itu susah lagi.

Kami sampai di Pos Jambangan sekitar jam setengah 5. Jambangan berupa sabana kecil yang dikelilingi semak dan pepohonan. Dari sini seharusnya kami bisa melihat kerucut puncak Mahameru, namun sore itu awan dank abut bersekongkol untuk menutupinya. Kata Cebret, Kalimati tinggal sebentar lagi. Kami tetap memacu langkah kami agar segera sampai di kalimati. Di sanalah kami akan mendirikan tenda dan tidur sebelum mendaki Puncak Mahameru tengah malam nanti.

SELAMAT DATANG DI KALIMATI

Jalur dari Pos Jambangan ke Kalimati berupa jalan setapak menurun melewati hutan yang lebih lebat daripada Cemoro Kandang. Memang tak jauh, benar kata Cebret. 15 menit saja kami sampai di lembah savana yang cukup luas di antara 2 bukit, Bukit gunung Kepolo dan Bukit Puncak Mahameru. Tak berapa lama setelah kami sampai, awan yang menutupi Mahameru berangsur hilang. Dan untuk pertama kalinya aku melihat kerucut Puncak Mahameru. Puncak yang gagah diselimuti pasir dengan guratan-guratannya. Dan Mahameru pun menyambut kami dengan letupan kecilnya. Sore yang indah. Berat perjalanan hari ini terbayar sudah.

Kami segera memilih tempat untuk mendirikan tenda di dekat shelter di antara pepohonan Cemara. Kami segera masak, makan malam, dan mempersiapkan peralatan dan perbekalan yang akan kami bawa saat summit attack nanti. Kamipun memanfaatkan waktu yang ada  untuk tidur dan mengembalikan stamina kami lagi. Karena pendakian Semeru yang sesungguhnya baru dimulai tengah malam nanti.

TANJAKAN BERAT

Tengah malam kami bangun. Begitu juga dengan rombongan lain. Hari ini, kami akan mewujudkan mimpi yang sudah lama ingin kami gapai. Berdiri di tanah tertinggi. Namun sebelum itu, kami harus mendaki hampir 1 Km vertikal, dengan kemiringan 45-60 derajat. Apakah kami bisa? Belum tahu. Karena itu kami ingin mencobanya.

Sekitar setengah satu kami mulai berjalan meninggalkan kemah. Namun kami melakukan kesalahan. kami salah perhitungan, hari itu kami harus berjuang mendaki tanjakan berat sampai puncak hanya berbekal 500 ml air masing-masing orang. Bodohnya kami tak mengambil air dahulu di mata air Sumber Mani sore kemarin karena kesorean sampai di Kalimati. Tapi sudahlah, yang berlalu tak perlu terlalu disesalkan, yang ada sekarang yang harus kami perjuangkan.

Jalan menanjak berdebu menjadi menu perjalanan kami malam itu. Tipisnya oksigen ditambah debu yang beterbangan membuat kami semakin kewalahan, dan semakin cepat lelah. Malam itu dingin, namun keringat tetap mengucur deras karena kami mengeluarkan tenaga ekstra untuk berjalan di tanjakan ‘sadis’ ini. Sebelum sampai Arcopodo, Pethul merasa kurang enak badan dan muntah-muntah. Mungkin dia mulai terserang MS, Mountain Sickness. Kami putuskan untuk istirahat sebentar sambil menunggu perkembangan kondisi Pethul. Untungnya kami membawa teh hangat di termos kecil yang dibawa Kakex, sehingga cukup membantu pemulihan energy dan kondisi Pethul.

Kami melanjutkan perjalanan setelah Pethul yakin mampu melanjutkan pendakian ini. Jalurnya masih sama, jalan menanjak zig-zag dengan kanan-kiri jurang. Jam 2 kurang, kami sampai di Arcopodo. Arcopodo adalah area camp yang berundak-undak yang cukup untuk sekitar 10 tenda. Namun karena rawan longsor dan tidak ada sumber air, maka camp pendaki sebelum summit attack dipindah ke Kalimati.

Dari Arcopodo,jalan semakin menyempit, dan tak lama kemudian kami sampai di batas vegetasi. Angin yang berhembus membuat suhu udara yang kami rasakan semakin dingin. kami mulai menapaki track pasir dan kerikil yang berdebu. Pasir yang kering membuat kami semaki kesulitan untuk mendaki. Naik 5 langkah, turun satu langkah. Naik tiga langkah turun satu langkah. Baru berjalan satu menit, berhenti dua menit. Dan tanjakan pasir ini sangat menguras tenaga, dan kesabaran.

Di awal tanjakan pasir, kami masih berjalan beriringan. Kemudian menjadi 2 kelompok, lama kelamaan kami terpisah-pisah karena keadaan jalur, stamina, banyaknya pendaki rombongan lain, dan gelapnya malam membuat kami tak bisa melihat kawan kami di depan maupun dibelakang. Di depan Pethul sudah berjalan lebih dulu. Aku, Sulis dan Cebret berjalan bersama, namun kemudian Cebret tertinggal tanpa kami sadari. Kami berusaha menunggu sambil memancarkan senter kea rah bawah, namun tak terlihat wajah Cebret. Kami piker mungkin dia sudah bergabung dengan Agus, Kakek, dan Ian di belakang. Kami pun melanjutkan pendakian ini sedikit demi sedikit.

Sinar jingga sudah menggores ufuk Timur. Namun jam masih menunjukkan pukul 4.30. akhirnya kuputuskan untuk berhenti dulu. Shalat subuh di pinggir jalur sembari menunggu teman-temanku yang masih di belakang. Sementara Pethul sudah tak terlihat lagi.

Cukup lama kami menunggu, kami putuskan untuk melanjutkan sisa perjalanan ini meski kami tak tahu berapa lama lagi kami akan sampai di puncaknya. Walaupun langit sedikit terang, puncaknya masih belum terlihat. Namun pemandangan di bawah yang indah membuat kami bisa tersenyum melangkahkan kaki meski berkali-kali merosot ke bawah lagi.

HARU BIRU MAHAMERU

Jam menunjukkan pukul 6 kurang, dan langit sudah berwarna biru cerah. Jelas, sunrise pagi ini terlewat lagi. Di atas sana terlihat beberapa pendaki berdiri, dan terdengar teriakan, “Puncak!”. Entah siapa yang berteriak, namun hal itu membuatku semangat karena puncak sudah dekat. Dan benar saja, tak sampai 10 menit aku melihat bendera Merah Putih berkibar di tengah dataran luas. MAHAMERU. Syukur Alhamdulillah. Akupun terus melangkahkan kaki menuju bendera itu. Di sana, Pethul sudah sampai lebih dulu menyambutku. Kami saling memberi selamat. Tak kusangka, Pethul yang sempat terserang MS malah jadi yang pertama yang sampai di puncak.

Puncak Mahameru by PMTG adventure
Puncak Mahameru dengan Background Kawah Jonggring Saloka (Foto : Koleksi Pribadi)

Aku segera berkeliling, menikmati 360 derajat pemandangan tergelar di depan mata. Pemandangan yang indah, cerah. Gugusan hijau di bawah langit biru. Dan kuabadikan setiap sudut, berbagai arah lanskap itu ke dalam format JPG. Dan tak lupa, aku ‘mengunjungi’ memorial Soe Hok Gie yang ada di Puncak Mahameru ini. Di tempat inilah terakhir kali Beliau memandang, bernafas, dan bersahabat.

Pemandangan dari Puncak Mahameru
Pemandangan dari Puncak Mahameru (Foto : Koleksi Pribadi)

Tak berapa lama, Sulis sampai di puncak, beberapa menit kemudian Agus, kemudian Cebret, dan setengah jam kemudian barulah Kakek dan Ian berjalan bersama saling berangkulan, saling menguatkan, menapaki tanah tertinggi ini bersama. Persahabatan  yang indah, dan mengharukan. Kami yang sudah sampai lebih dulu menyambut dan menyalami merak berdua. Kami berkumpul dan mengabadikan momen-momen kebersamaan kami di tempat yang kami impikan bersama ini. Berdiri bersama di Tanah tertinggi di Pulau Jawa. Sungguh perasaan senang dan syukur yang tak terlukiskan.

Walaupun matahari sudah cukup tinggi, namun suhu udara sangat dingin pagi ini. Kami bahkan memakai jaket kami terus, kami hanya membuka jaket untuk berfoto bersama dengan kaos kebanggaan kami. Itupun hanya sebentar. Mungkin karena angin yang bertiup cukup kencang, sehingga suhu yang kita rasakan lebih dingin dari suhu udara yang sebenarnya.

Cukup lama kami menikmati altitude 3676 mdpl ini. Kami baru turun dari puncak sekitar pukul setengah Sembilan. Sebenarnya aku masih ingin lebih lama lagi di puncak ini, tapi aku sadar, Sampai puncak itu baru setengah jalan. Karena tujuan perjalanan sebenarnya adalah rumah. Ya. Pulang dengan selamat sampai rumah adalah tujuan utama kami berpetualang selama ini.

Sampai bertemu lagi, Mahameru..

loading...

About afvendiant

Check Also

Ngopi di Campsite Gunung Andong, 19 Mei 2013 (foto oleh : @afvendiant)

BETAPA ENAKNYA NAIK GUNUNG ANDONG JAMAN DULU

BETAPA ENAKNYA NAIK GUNUNG ANDONG JAMAN DULU Naik Gunung. Berbicara tentang naik gunung, yang terlintas …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

this is a cache: 0.00121