Rabu , April 19 2017
Home / Catatan Perjalanan / Pendakian Merbabu via Suwanting

Pendakian Merbabu via Suwanting

Ilustrasi Inside the Dome by Andahuddin

Pendakian Merbabu via Suwanting

Sudah 8 bulan setelah pendakian terakhirku kesana. Adalah pendakian Merbabu via Wekas dan hanya sampai Pos 2 saja. Dan kini, ajakan seorang teman untuk mendaki gunung ini melalui Suwanting, jalur lama yang dibuka kembali, menarik minatku untuk mencobanya. Sudah lama juga tak mendaki gunung ‘tinggi’. Beberapa bulan terakhir ini hanya mendaki Gunung Andong, yang kini kian ramai, dan membuatku malas menyambanginya, apalagi di akhir pekan mencapai 1000 orang yang mendakinya.

Jadilah kususun rencana pendakian ini dengan sematang mungkin. Kucoba menggali informasi mengenai jalur yang belum pernah kudaki ini. Dan menurut google, jalur ini juga belum banyak dieksplore oleh pendaki kekinian. Terlihat dari hasil pencarian yang belum banyak menampakkan catatan perjalanan Merbabu melalui jalur ini. Diantara hasil pencarian, kutemukan satu yang cukup menjadi pedoman dan gambaran. Cukup detail dalam menceritakan dan memberikan petunjuk arah, informasi, catatan waktu perjalanan, serta melampirkan foto-foto beberapa pos penting di jalur ini. Informasi sudah. Saatnya memikirkan aspek lainnya.

Hal pertama yang kami lalukan adalah mengumpulkan tim ekspedisi. Tidak perlu terlalu banyak, namun memenuhi standar jumlah anggota minimal dalam sebuah pendakian. Maka terbentuk Tim dengan personil 3 orang. Ando, Willy, dan Aku sendiri (Ari). Kami segera berdiskusi mengenai peralatan dan logistic pendakian, serta membuat rencana perjalanan sebagai pedoman.

—-

Tibalah hari yang ditunggu. Setelah yakin peralatan dan logistik yang harus kubawa sudah terpacking rapi di carrier, aku segera berangkat menuju mBlabak. Rumah Ando. Disana ada Willy yang sudah sampai lebih dulu serta Ando dengan carrier mereka masing-masing. Setelah ngobrol-ngobrol sebentar, kami putuskan untuk segera berangkat menuju Suwanting karena sudah jam 9 lebih. Terlambat cukup lama dari jadwal karena sesuatu hal. Kami berangkat dengan 2 motor dengan formasi Willy-Ando, dan Aku sendiri.

Sekitar 1 jam kemudian, kami sampai di Basecamp Pendakian Merbabu via Suwanting. Basecamp ini cukup mudah ditemukan karena sudah ada petunjuk di pinggir jalan raya Ketep-Kopeng. Sambutan ramah pengurus basecamp menyambut kami bertiga. Kami segera registrasi, kemudian beristirahat sejenak di basecamp sambil ngobrol-ngobrol dengan pengurus basecamp. Dalam obrolan ini, kami bertanya-tanya tentang jalur pendakian. Pengurus basecamp juga memberi saran serta mengingatkan untuk tidak mengambil flora fauna yang ada di sepanjang jalur pendakian.

Setelah kami rasa cukup istirahat dan bincang-bincangnya, kami segera melengkapi logistic yang belum ada: sayur, minyak, dan cemilan tambahan, yang kami beli di warung sekitar basecamp. Setelah itu, kami packing logistic tambahan serta jas hujan, lalu kami bersiap untuk berangkat.

Pukul 11.00 kami memulai pendakian merbabu via suwanting hari pertama. Cuaca yang sedikit berkabut menemani langkah kami menapaki jalan semen di tengah kampung menuju ladang. Keramahan penduduk dusun Suwanting begitu kental terasa. Sapaan atupun ajakan untuk singgah terdengar hingga ujung desa.

Sampai di ladang, ada papan petunjuk jalan bagi para pendaki, cukup jelas bagi mereka yang mau membaca tanda. Di sana juga ada papan larangan “MOTORCROSS DILARANG MASUK”. Secara pribadi kami setuju dengan larangan tersebut, karena dengan masuknya Motor Cross di jalur pendakian, akan berdampak buruk bagi jalur pendakian serta ekosistem hutan yang dilewatinya. Roda motor akan mengkikis lapisan tanah dan suara bising mesinnya akan mengganggu fauna yang hidup di sekitar jalur pendakian. Selain itu, kontaminasi asap kendaraan akan mengurangi kesegaran udara yang ada di gunung itu sendiri. Jadi cukup jelas, namanya juga jalur pendakian, ya dibuat untuk mendaki.

Kembali ke pendakian merbabu via suwanting..

Setelah melewati ladang, kami masuk ke etape selanjutnya. Hutan Pinus. Saat sudah memasuki hutan Pinus, berarti Pos I tak lama lagi. Benar saja, sekitar 5 menit berjalan di hutan Pinus, kami telah sampai di Pos I. Lemba Lempong. Pos I merupakan sebuah dataran penuh rerumputan yang cukup luas di antara hutan Pinus. Pemandangan yang sungguh epic. Dari Pos I, kita juga bisa melihat pemandangan ladang dan desa-desa ke arah Selatan/ Barat Daya. Sungguh tempat yang cukup indah untuk melupakan lelah.

 

Tak terlalu lama kami beristirahat di Pos Epic ini, kami segera angkat carrier dan melanjutkan pendakian yang baru saja dimulai ini. 15 menit berjalan, kami sampai di Pos Lemba Gosong. Disini kami duduk cukup lama sembari menunggu waktu dzuhur.

Setelah shalat dzuhur, kami pun kembali melangkah, dari pohon pinus, lalu berganti menjadi semak-perdu di kanan kiri jalur pendakian. Di etape ini, kami menemukan anggrek tanah Herminium lanceum di antara rerumputan di pinggir jalur pendakian. Sekitar pukul setengah satu, kami sampai di Pos Lemba Cemoro. Dari sini, jalur mulai menanjak ringan hingga ‘sadis’.

Hampir di setiap pos kami hanya berhenti sebentar, karena sepanjang perjalanan kami juga sering berhenti. Kami berjalan dengan santai pada pendakian ini. Menikmati jalur baru bagi kami ini. Kami sampai di pos selanjutnya setengah jam kemudian. Lemba Ngrijan. Antara Lemba Cemoro hingga lemba ngrijan kami menjumpai 3 jenis anggrek tanah, Habenaria tosariensis, Malaxis kobi, dan Cheirostylis javanica. Yang cukup spesial, ketiga jenis tersebut Anggrek Endemik Jawa.

Selepas Lemba Ngrijan, tanjakan terjal yang cukup panjang menyambut kaki yang mulai pegal ini. Tapi, bukankah ini yang dicari dari mendaki? 😀

Akhirnya kami melihat Plakat Pos 2 : Lemba Mitoh setelah berjuang di tanjakan terjal selama 30 menit-an. Pos 2 merupakan area terbuka yang cukup lapang. Pos ini memang dibuat dan diratakan untuk menyediakan tempat mendirikan tenda bagi pendaki. Namun kami berniat untuk camping di Pos 3, jadi kami hanya rehat sejenak disini.

Etape selanjutnya masih dengan tanjakan di punggungan bukit. Kami bersemangat 45 untuk segera sampai di Pos 3 karena kabut tebal sudah menggelayut di atas kami. 30 menit kemudian, kami sampai di Pos Lemba Manding. Katanya mulai dari sini, kita tidak boleh mengeluh. Jadi, jaga mulut agar tidak keceplosan. 😀

Baru sekitar 2 menit sejak tiba di Pos ini, tiba-tiba gerimis turun, kami masih ‘stay cool’ karena kami pikir ini hanya kabut lewat yang akan segera hilang. Namun gerimis yang tadinya rintik-rintik berubah menjadi hujan yang rontok-rontok dari langit. Kami segera mencari tempat berteduh, meskipun hujan tetap mengenai tubuh kami, tapi setidaknya tidak terlalu basah saat kami memakai jas hujan 5 ribua-an kami.

Hujan deras, But Show Must Go On . Kami memutuskan untuk segera bergerak lagi. Sama-sama kehujanan mending tetap berjalan daripada berhenti.

Muali lemba manding, Kamera Ando tak lagi difungsikan. Kami fokus untuk berjalan dibawah guyuran hujan yang masih deras. Air hujan berimbas pada jalur pendakian yang menjadi licin. Dan perjalanan menjadi lebih lambat dari sebelumnya.

Kami cukup frustasi karena yang kami baca di blog untuk sampai di Pos 3 setelah Lemba Manding, kami masih melewati 2 Pos dengan awalan Dampo dan Pos Mata Air. Namun sejak meninggalkan Lemba Manding kami belum melihat plakat pos satupun. Memang banyak area yang mirip pos, namun tak ada plakat satupun, jadi kami pikir Pos 3 masih cukup jauh sementara hujan belum berhenti, dan malah ditambah petir yang cukup dekat dengan posisi kami.

Waktu semakin sore, kami sempat berunding untuk ngecamp di Pos terdekat yang kami temui pertama kali. Jadilah kami lanjutkan perjalanan dengan harapan segera sampai di pos apapun itu.

Saat kami keluar dari areal hutan dan melewati area terbuka, petir masih menggelegar dengan intensitas yang cukup sering. Hal ini yang membuat kami was-was karena tak ada pohon tinggi yang bisa mengecoh petir. Namun rasa was-was kami berubah menjadi tawa senang karena kami melihat Plakat yang bertuliskan MATA AIR. Berarti Pos 3 tinggal beberapa meter lagi. Jadilah kami semangat berjalan di kemiringan sekitar 70 derajat dengan hujan deras disertai angin dan petir. Semacam badai gitulah.

Mata air berada di kiri jalur pendakian, Kami mengambil air secukupnya dan segera mendaki lagi menuju pos 3 untuk mencari tempat mendirikan tenda. Setelah menemukan tempat yang cukup baik, kami memasang flysheet dulu di dekat semak untuk berteduh dari hujan dan petir. Kami melepas jas hujan dan duduk-duduk di bawah flysheet. Dingin yang cukup menusuk karena baju dan celana kami basah. Maklum, mantol UL 5 ribu-an.

Setelah kami merasa dinginnya sudah keterlaluan, kami segera mendirikan tenda di bawah lindungan flysheet kuning buatan Ando dan Willy itu. Setelah tenda berdiri, kami segera masuk ke dalam tenda. Sebenarnya tanah datar untuk tenda harusnya agak jauh dari tempat flysheet. Namun karena kami sudah malas, kami tak memindahkan tenda walaupun agak miring tanahnya.

D dalam tenda, kami segera melepas baju basah kami. Dan menggantinya dengan yang kering untuk segera mengembalikan suhu badan kami. Kami juga mengisi perut kami dan dengan makanan dan minuman yang hangat agar tidak terena hipothermia. Setelah itu kami segera mengistirahatkan badan setelah seharian berjuang. Selamat malam..

—-

Pagi mentari..

Lhoh, ternyata pagi ini kabut tebal masih menari-nari di Pos 3. Dampo Awang pendakian merbabu via suwanting. Dan kami baru sadar, ternyata apa yang kami baca di internet agak sedikit berbeda. Mungkin sudah ada perubahan yang dilakukan pengelola jalur pendakian terhadap nama Pos. Setelah shalat subuh, Kami masih berdiam di tenda. Hanya membuka pintu tenda sembari memantau barangkali cuaca berubah cerah.

Menikmati kopi hangat menjadi aktivitas kami bertiga pagi itu. ando yang membawa cat air mini mengconvert pemandangan ‘from the dome’ ke dalam sketsa berwarna. Dan hasilnya, Mantep! 11-12 sama Renan lah. 😀

Pendakian Merbabu via Suwanting - Inside The Dome oleh Andahuddin Yusuf (Ando)
Inside The Dome oleh Andahuddin Yusuf (Ando)

Bosan menunggu, aku keluar untuk memotret Habenaria tosariensis berembun yang melimpah ruah di rerumputan Pos 3. Namun sejauh eksplorasiku, aku tak menemukan jenis lain di sini.

Semakin (agak) siang, kabut mulai menghilang. Tampaklah pemandangan yang wow. Merapi dengan puncak abu gelapnya, Sumbing, Sindoro, Andong, Langit biru, serta lanskap sawah dan rumah-rumah jauh di bawah sana. Namun, ternyata biru itu tak bertahan lama. Hanya sekitar setengah jam, kabut kembali menggelayut. Menutup pemandangan yang baru saja kami nikmati.

| Baca Juga : Pendakian Gunung Merapi : Menembus Debu merapi

Melihat kondisi seperti itu, kami akhirnya memutuskan untuk tidak melanjutkan pendakian ke puncak walaupun ada misi khusus. dan katanya savana di atas Pos 3 indah. Tapi Masih ada lain waktu. Dan kami tak ingin memaksakan diri.

Setelah masak dan sarapan, sebelum kembali turun ke peradaban, kamipun memilih untuk melaksanakan misi khusus kami di sini. Di Pos 3. Dari pada tidak terlaksana sama sekali. Dan inilah misi khusus kami.

Pendakian Merbabu via Suwanting - Misi Khusus yang 'harusnya' ddilaksanakan di Puncak. (Foto:Koleksi Pribadi)
Misi Khusus yang ‘harusnya’ ddilaksanakan di Puncak. (Foto:Koleksi Pribadi)

 

Pendakian Merbabu via Suwanting - Misi Khusus : Pos 3 Suwanting (Foto:Koleksi Pribadi)
penulis di Pos 3 Suwanting (Foto:Koleksi Pribadi)

Inilah sepotong kisah, yang bisa jadi bahan cerita untuk anak-cucu nanti. Bahwa kita pernah melakukan hal yang tidak biasa. Hal diluar kebiasaan, namun tak melanggar aturan. Hal yang menurut kita keren, gila, dan patut diabadikan. Walaupun tidak sesuai target yang ditetapkan, namun tak mengurangi kepuasan. Perasaan yang penuh dengan rasa senang. Inilah cerita pendakian merbabu via suwanting.

Kebersamaan yang hangat yang membuat dingin kabut tak begitu terasa. Suhu 12 derajat Celcius terasa biasa saja. Ya, pagi itu di Dampo Awang. Saat tenda orange berdiri miring, dibawah flysheet kuning. Sampai bertemu di perjalanan selanjutnya, Kawan..

 

loading...

About afvendiant

Check Also

PMTG Adventure in Semeru

SEMERU. Aku Rindu.

Sore itu setelah registrasi di Balai Taman nasional Bromo Tengger Semeru  (TNBTS) Pos Ranupane, kami …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

this is a cache: 0.00424