Kamis , Oktober 5 2017
Home / Catatan Perjalanan / Pendakian Merbabu via Suwanting : Pendakian Melunasi Hutang

Pendakian Merbabu via Suwanting : Pendakian Melunasi Hutang

Pemandangan Gunung Merapi dari Puncak Suwanting (Afvendiant/ PMTG adventure)

Suasana lebaran masih terasa saat kami bertiga merencanakan untuk mendaki Merbabu melalui jalur Suwanting. Bagiku dan Willy, ini adalah pendakian untuk melunasi hutang tempo hari saat kami ‘menyerah’ sampai Pos 3 saja. Yang berbeda pada pendakian kali ini adalah, Ando, Renan Ozturk kita, tak bisa ikut karena suatu hal. Posisinya sementara digantikan Agus, saudara Willy dari ibu kota.

Sekitar jam 9 pagi, aku berangkat menuju rumah Willy di daerah Dukun, sejalan dengan jalan menuju Pos Pendakian Suwanting. Di sana, kami melengkapi losgistik dan peralatan yang belum ada. Dan kali ini, makanan THR (Turahan Hari Raya) memenuhi ransel kami.

Setelah Dzuhur kami berangkat dengan motor. Willy dengan Agus, dan aku sendiri. Setelah melewati jalan menanjak dan berkelok sekitar 1 jam, kami sampai di Basecamp Pendakian Suwanting.

Suasana akrab masih kami rasakan saat sampai di desa ini, masih sama dengan saat pertama kali kesini. Yang berubah adalah lokasi basecamp yang sudah disiapkan di beberapa rumah penduduk. Kami memilih rumah terdekat dengan tempat parkir motor kami. Kami beristirahat sejenak sebelum memulai pendakian yang menurut kami cukup berat ini. Siang ini cukup ramai pendaki yang akan mendaki jalur ‘baru’ ini. Aku juga bertemu Pak Sol yang sedang ‘silaturahmi’ saja ke salah satu basecamp. Namun ia tak ingin mendaki meski ku ajak berkali-kali.

Sekitar pukul 3 sore kami mulai melangkahkan kaki ini di jalur pendakian. Kami harus bergegas agar tak kemalaman sampai Pos III, tempat kami akan mendirikan tenda malam ini. Kami berjalan perlahan, menapaki jalan aspal yang cukup menanjak curam hingga ladang. Setelah ladang, jalur berganti menjadi jalan tanah yang lebih ramah di kaki.

15 menit berjalan kami sampai di Pos I, Lemba Lempong. Pos I Merbabu jalur Suwanting adalah pos terdekat dari basecamp yang pernah aku temui selama mendaki. Pemandangan Pos I masih epic seperti tempo hari, kami beristirahat sejenak di antara pepohonan pinus yang indah sebelum melanjutkan perjalanan.

Perlahan namun pasti, jalur semakin lama semakin menanjak dengan kemiringan semakin curam. Jalur tanah mulai berdebu karena bulan ini sudah masuk musim kemarau. Ditambah semakin banyak kaki yang melewati, tanah semakin banyak terkikis, undakan tanah yang tempo hari masih rapi kini hampir tak terlihat lagi.

Satu persatu pos kami lewati. Lemba Gosong, Lemba Cemoro, Lemba Ngrijan. Agus yang berbadan kecil bergerak lincah di depan, meninggalkan aku dan willy, namun masih dalam jarak pandang. Sepanjang perjalanan, setidaknya aku menemukan 3 jenis Anggrek tanah; Malaxis kobi, Cheirostylis javanica, Appendicula alba. Lumayan, oleh-oleh buat mbak e. 😀

Jalur Pendakian Merbabu via Suwanting
Jalur Pendakian Merbabu via Suwanting

Sampai di Pos II, Lemba Mitoh, kami lepaskan keril kami di tanah. Meski tak berniat duduk, setidaknya bebas dari  beban walau sebentar saja. Cuaca sore yang sedikit berkabut membuat perjalanan tak terlalu berat. Namun, Jalan setelah Pos II ini juga semakin tinggi levelnya. Kami mulai mendaki punggungan terbuka, dengan semak-semak di kanan kiri jalur. Kabut perlahan-lahan menghilang, dan sisi timur menawarkan pemandangan yang aku tunggu-tunggu sedari tadi. View Merapi, walaupun hanya terlihat bagian puncaknya saja. Kami berhenti lagi untuk menikmati pemandangan. Menikmati perjalanan. Menikmati moment. Mensyukuri keindahan. Sementara rombongan besar pendaki lain melewati kami yang duduk diam di tepi jalan.

View Merapi dari Jalur Pendakian merbabu via Suwanting
View Merapi dari Jalur Pendakian merbabu via Suwanting

Sekitar 15 menit kami berhenti. Sebenarnya masih ingin lebih lama, namun Pos III rasanya masih cukup jauh. Kami berjalan lagi, tetap dalam ritme kami. Sementara langit barat mulai merubah warnanya. Menyambut mentari yang hendak turun ke peraduan. Kamipun berhenti lagi bahkan cukup lama. Hampir 1 jam. Mengabadikan sunset dari jalur pendakian ke dalam HP Willy. Ranting-ranting pepohonan pun menambah indah pemandangan senja ini.

Sunset dari Jalur Pendakian Merbabu via Suwanting
Sunset dari Jalur Pendakian Merbabu via Suwanting

Senter mulai dinyalakan. Perjalanan menjadi lebih pelan karena terang siang tak akan bisa digantikan senter kecil yang kami bawa. Hawa dingin kemarau mulai menemani langkah kami. Lelah. Letih. Stamina dan semangat sudah banyak berkurang. Dan saat ini aku hanya ingin segera sampai di Pos III, dan segera mendirikan tenda. Itu saja.

Kami baru sampai di Pos III setelah Isya’. Angin gunung yang dingin bertiup cukup kencang menerpa tubuh. Kami segera mencari tempat yang nyaman untuk mendirikan tenda. Kami memilih areal lembah sebelah timur di bawah semak belukar. Walau sedikit, setidaknya semak bisa mengurangi angin dingin yang berhembus ke dalam tenda. Setelah tenda berdiri, kami makan nasi bungkus yang kami bawa dari rumah Willy. Setelah melakukan kegiatan lain-lain, kami segera meringkuk dalam Sleeping Bag (SB) kami. Mengistirahatkan jiwa dan raga kami.

Kristal es (Bunga es) menyelimuti daun rerumputan di Camp Dampo Awang
Kristal es (Bunga es) menyelimuti daun rerumputan di Camp Dampo Awang

Pagi ini Dampo Awang dingin sekali. Mungkin sedingin  saat menginap di Hargodalem 4 tahun lalu. Aku keluar dari tenda karena langit timur sudah menggoreskan sinar jingganya. Tanda bahwa siang akan segera hadir menggantikan malam. Di luar tenda aku mendapatkan jawaban kenapa semalam aku sering terbangun karena dingin. Daun rerumputan berwarna putih diselimuti kristal es (bunga es). Pasti suhu udara sekitar 0 derajat Celcius, sementara Sleeping Bag milikku hanya mampu menjaga tubuh tetap nyaman sampai suhu 15 derajat Celcius saja.

Setelah megabadikan sunrise yang tertutup punggungan gunung Merbabu, kami segera memasak untuk sarapan kami. Kami berencana untuk mendaki sedikit lebih tinggi. Setidaknya sampai sabana Suwanting yang katanya indah. Namun Agus yang masih malas-malasan akhirnya membiarkan Aku dan Willy saja yang meneruskan perjalanan. Sementara dia akan menjaga tenda (sambil meringkuk lagi di dalam SB).

Jam 7.30, Aku dan Willy memulai pendakian hari kedua ini dengan perlahan. Berbekal cemilan THR dan air mineral dalam daypack Willy, kami menapaki jalan setapak yang langsung menanjak. Suhu masih cukup dingin karena sinar matahari belum sampai ke sisi tempat jalur ini berada. Masih tertutup punggungan bukit sebelah timur. Di depan kami terlihat beberapa pendaki juga sedang berjuang mendaki lebih tinggi lagi. Berjuang. Melewati tanjakan demi tanjakan. Punggungan demi punggungan. Bukit demi bukit. Dan saat matahari mulai sampai di tempat kami berdiri, kami berhenti sejenak menghangatkan badan sembari menikmati lanskap luas di bawah langit biru cerah.

Cuaca yang cerah dan pemandangan yang semakin indah membuat kami semangat. Rencana sampai sabana berubah menjadi sampai puncak bukit yang terlihat di depan. Sampai puncak bukit, kami putuskan untuk berjalan sedikit lagi sampai Puncak Suwanting. Di Puncak Suwanting ini kami beristirahat cukup lama bersama pendaki lain dari Jogja. Duduk-duduk dan ngobrol-ngobrol diantara rerumputan kering setinggi lutut khas sabana, sambil menikmati cemilan dan pemandangan. Pada akhirnya, kami berganti rencana lagi untuk sekalian sampai Puncak Triangulasi karena jaraknya mungkin hanya 5 menit lagi.

Pemandangan dari Sabana Suwanting (Afvendiant/ PMTG adventure)
Pemandangan Gunung Merapi dari Puncak Suwanting

Perlahan kami ayuhkan langkah menapaki jalur yang tercetak. Dari sini terlihat Pos II Merbabu via Wekas dengan banyak tenda warna-warninya, begitu juga Sabana 2 Jalur Selo dengan tenda yang warna-warni pula. Dan Merapi terlihat penuh tanpa noda.

Finally. Puncak Triangulasi Merbabu. 09.08.  Setelah beberapa kali mendaki Merbabu,baru kali ini aku menjejakkan kaki di Puncak Triangulasi. Biasanya jika sampai puncak aku hanya sampai di Puncak Kentheng Songo.  Rasanya malas untuk ke puncak ini walaupun mungkin hanya 1 menit berjalan kaki.

Setelah mengambil beberapa foto dari Puncak Triangulasi, kami duduk-duduk di bebatuan. Kembali makan cemilan dan minum untuk sedikit memulihkan energy. Aku mengajak Willy untuk sekalian mengunjungi Kentheng Songo, namun ia lebih memilih tetap duduk di sana. Akhirnya aku sendiri dengan setengah berlari menuruni Puncak Triangulasi dan kemudian naik ke Puncak Kentheng Songo. Aku langsung mengabadikan pemandangan dari Kentheng Songo dengan HP Willy. Pagi ini cukup ramai, tak sedikit pula yang bermalam di puncak. Aku yang hanya sendiri pun tak lama berdiri di Kentheng Songo, mungkin hanya 3 menit. Kemudian dengan berlari aku kembali ke Triangulasi. Tak sampai 1 menit aku sudah sampai di tempat Willy istirahat tadi. Kamipun foto bersama dulu sebelum akhirnya turun lagi ke camp kami di Pos III.

Sampai bertemu lagi, Kentheng Songo, Triangulasi, 3142 mdpl.

Perjalanan turun kami lakukan dengan berlari agar lebih cepat sampai, sekaligus menikmati sensasi saat adrenaline terpacu. Di Puncak Bukit kami beristirahat lagi. Duduk sebentar sambil menikmati pemandangan yang masih ditawarkan sang alam. Dan kami kembali berlari menuruni bukit diantara rerumputan. Tepat sebelum Pos III, kami bertemu rombongan Fullpack yang sedang berjuang mendaki tanjakan curam. Kamipun mengalah. Berhenti dan menunggu sampai semua anggota rombongan melewati tanjakan. Jika tidak ada antrian tadi, dari Puncak sampai pos III mungkin hanya 30 menit saja.

Sampai di camp Pos III, kami segera makan sisa nasi bungkus yang kami bawa kemarin. Alhamdulillah masih layak makan. 😀 setelah sarapan, kami pun mulai mengepak peralatan ke dalam ransel kami. Sekitar jam 11.30 kami meninggalkan Pos III setelah berfoto bersama beberapa kali jepretan. Dari pos III, kami berencana mengambil air di mata air untuk tambahan persediaan air selama perjalanan turun. Namun saat sampai pos mata air, ternyata air tidak mengalir, padahal kemarin masih mengalir dengan lancar. Ternyata ada pralon yang sedang diperbaiki, sehingga air tidak mengalir di penampungan air dekat Pos III ini. Bagi kami, tidak adanya air mungkin tidak terlalu masalah, karena kami masih ada sdikit persediaan. Meskipun harus berhemat, tapi kami yakin cukup untuk sampai basecamp. Kekecewaan tampak di wajah pendaki-pendaki rombongan lain yang berencana melanjutkan perjalanan ke puncak dan turun di jalur yang berbeda. Tentu tidak adanya air akan merubah rencana yang telah mereka susun.

Kamipun tak ingin berlama-lama menunggu, kami segera memacu langkah kami turun melewati beberapa pendaki yang masih mau menunggu. Jalur yang kami lewati semakin ‘parah’. Semakin berdebu, dan semakin licin. Kamipun turun dengan sedikit berlari secara bergantian, berjeda beberapa meter, atau beberapa detik setidaknya debu yang beterbangan tersapu kaki hilang dulu. Sehingga jarak pandang tidak tertutup, dan nafas juga tidak terganggu.

Pos demi pos terlewati dengan cepat dengan bayaran beberapa kali jatuh terpeleset. Dan sekitar jam 13.35 kami sampai di Pos I. Kami beristirahat cukup lama disini, melepaskan keril, tidur-tiduran di atas rerumputan hijau, di bawah kanopi Pinus sp yang epic. Rasanya ingin berkemah semalam lagi disini, namun masing-masing dari kami ada acara lain yang harus dikerjakan. Mungkin lain waktu, semoga ada kesempatan kesini lagi.

Setelah merasa cukup istirahat dan meresapi keindahan Pos I ini, kami melanjutkan perjalanan turun yang tinggal 10 menit lagi. Kami berjalan santai, menikmati sisa-sisa perjalanan dan pemandangan. Setelah sampai di basecamp, kami bersih-bersih seperlunya, berpamitan, kemudian turun meninggalkan Desa Suwanting. Ditengah perjalanan, kami berhenti dulu di warung bakso langganan kami di daerah Tlatar untuk mengisi perut yang cukup lapar. Setelah selesai urusan perut, kami kembali memacu motor kami menuju rumah kami masing-masing.

Dalam sebuah perjalanan, yang terjadi kadang tak berjalan sesuai rencana. Kadang lebih baik, bisa juga lebih buruk. Apapun itu, selama kita yakin dengan pilihan kita (tentu saja setelah mempertimbangkan akibat baik-buruknya), lakukanlah walaupun tidak sesuai rencana awal. Rencana memang penting, tapi itu hanyalah panduan kita selama di lapangan. Lakukan improvisasi, namun tetap perhitungkan safety.

loading...

About afvendiant

Check Also

PMTG-panembongan1

CAMPING DI BUKIT PANEMBONGAN, KUNINGAN

Pernah camping di bukit panembongan? Adanya bocoran libur 2 hari membuatku segera membuat rencana untuk …

One comment

  1. Sepertinya mas-masnya ini tipe pendaki yang kalo turun lari ya, naik turunnya cepet semua, haha.. terima kasih sharingnya mas..

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

this is a cache: 0.0029