Selasa , Desember 12 2017
Home / Catatan Perjalanan / CIREMAI : Sekali Lagi (Part 1)

CIREMAI : Sekali Lagi (Part 1)

Puncak Gunung Ciremai (foto : @afvendiant)

CIREMAI : Sekali lagi

Ciremai Sekali Lagi adalah judul yang terlintas saat mulai menulis (baca : mengetik) catatan perjalanan ini. Ini adalah kali ketiga aku mendaki gunung tertinggi Jawa Barat ini. Namun sebelumnya aku mendaki melalui jalur Palutungan, kali ini adalah pertama kali melalui Jalur Apuy. Keputusan untuk ikut dalam pendakian bersama ini hanya beberapa jam sebelum waktu keberangkatan. Tentu saja setelah berpikir panjang tentang positif negatifnya. Akhirnya malam sebelumnya aku packing perlengkapanku dalam carrier River Mount Magnum 60+10L. salah satu carrier yang ku sewakan di toko outdoor kecilku.

Pagi harinya, ku selesaikan mengepak barang-barang yang belum masuk dalam ransel besarku. Setelah selesai, aku bergegas menuju meeting point yang telah di tentukan, Rumah imin di Kenanga, Kecamatan Sumber. Sampai di sana, aku sedikit terlambat dari ketentuan, jam 7, tapi ternyata masih ada yang belum datang juga, dan keberangkatan menuju basecamp pun molor cukup lama dari jadwal yang telah ditentukan panitia.

Pengkondisian peserta untuk pemberangkatan (Foto oleh : @afvendiant)
Pengkondisian peserta untuk pemberangkatan (Foto oleh : @afvendiant)

Pukul 8.30 kami mulai menaikkan ransel-ransel kami ke atas 2 mobil bak terbuka, dan segera berangkat menuju Desa Apuy, Salah satu Basecamp Pendakian Gunung Ciremai yang masuk dalam wilayah Kabupaten Majalengka. Rute yang ditempuh mobil bak yang kami sewa ini memilih jalan tembus melewati ‘pedalaman’, desa-desa pinggiran Majalengka. Karena jika lewat jalan kota, pasti akan bermasalah dengan bapak-bapak berbaju coklat. 😀

Seperti jalan alternatif kebanyakan, jalan yang kami tempuh berupa jalan sempit berkelok-kelok, dengan tanjakan-tanjakan asoy. Melewati desa-desa dan pinggiran ladang penduduk. Semakin lama udara terasa semakin sejuk, tanda kami semakin tinggi. Di atas bak belakang, kami yang kebanyakan baru bertemu disini mengisi waktu dengan mengobrol, berbagi pengalaman, dan bersenda gurau hingga tak jarang tawa pecah. Namun kadang, kami semua terdiam. Menyelami imajinasi sendiri-sendiri sambil menikmati pemandangan pedesaan yang ‘langka’ bagi yang bekerja di daerah kota.

Jalur menuju Basecamp Apuy
Jalur menuju Basecamp Apuy   (foto oleh : @afvendiant)

Sampai balai desa Apuy, terlihat plang “Ke Basecamp Pendakian”, aku kira sudah dekat dengan basecamp, ternyata itu adalah awal dari jalur yang lebih ‘sangar’ dari pada jalur alternatif tadi. Jalan cor kanan-kiri, sempit, menanjak super tajam di tengah ladang, dan hanya cukup untuk 1 mobil saja. Jika berpapasan, harus ada satu yang mengalah untuk mundur dan mencari tempat untuk menepi. Jalan ini tidak direkomendasikan untuk pengendara motor yang tidak terlalu lincah, juga untuk motor yang kurang sehat. Utamakan motor trail.

Sekitar 10.15 kami sampai di Basecamp Apuy, yang lebih dikenal dengan nama Berod. Kami segera menurunkan ransel-ransel kami, dan bergabung dengan rombongan kami yang menggunakan motor. Kami segera berkumpul untuk makan siang, pengarahan dari panitia, serta pembagian kelompok dan tenda kelompok. Setelah berdoa dan berfoto bersama, sekitar tengah hari kami mulai mendaki. Aku, Bagus, dan Imin (Jawir) kebagian jadi tim penyapu, jadi kami berangakat sekitar 30 menit setelahnya.

Foto Bersama (foto oleh : @afvendiant)
Foto Bersama peserta Pendakian Bersama KPGIR Jabar #1 (foto oleh : @afvendiant)

Pendakian Gunung Ciremai via Apuy

Pos Pemeriksaan Pendakian Ciremai via Apuy
Pos Pemeriksaan Pendakian Ciremai via Apuy   (foto oleh : @afvendiant)

Pukul 12.20, kami bertiga melangkahkan kaki melewati Pos Pemeriksaan, tanda dimulainya pendakian ini. Jalan datar dengan tanjakan ringan menemani kami hingga Pos 1. Jalan ini mirip dengan jalur Palutungan sebelum Pos 1 Cigowong. Di kanan-kiri jalur didominasi oleh Ageratina riparia, yang memang hampir selalu menjadi penguasa di banyak gunung. Beberapa kupu-kupu juga terlihat beterbangan di sekitar jalur pendakian; Zizina otis, Mycalesis moorei, Eurema sp, dll

Mirip jalaur Palutungan sebelumk Pos 1 Cigowong
Mirip jalaur Palutungan sebelum Pos 1 Cigowong (foto oleh : @afvendiant)
kalo ini mirip Jalur Semeru sebelum Watu Rejeng (kayaknya) :D
kalo ini mirip Jalur Semeru sebelum Watu Rejeng (kayaknya) 😀  (foto oleh : @afvendiant)
Menuju Pos 1
Menuju Pos 1  (foto oleh : @afvendiant)

Siang yang terik cukup membuat keringat mengucur, karena di di berapa bagian, kanopi tak cukup lebat menutupi jalur. Setelah 30 menit berjalan, Kami sampai di Pos 1, Arban. Pos 1 jalur APuy ini berupa shelter permanen yang cukup besar, cukup untuk beristirahat ataupun berteduh dari terik matahari ataupun air hujan. Namun karena di sana sudah cukup penuh, kami memilih duduk di sekitar shelter di bawah teduhnya pepohonan.

Pos 1 Ciremai via Apuy : Arban
Pos 1 Ciremai via Apuy : Arban   (foto oleh : @afvendiant)

Dari balik semak, muncullah 3 orang bapak-bapak (kenalan jawir)  yang membawa 2 plastik berisi dedaunan segar. Setelah bertanya, saya baru tahu ternyata itu adalah Popoan, daunnya bisa dimakan langsung. Ilmu baru, namun belum sempat kucari nama ilmiahnya. Hehew Setelah beristirahat sekitar 20 menit, kami melanjutkan pendakian Gunung Ciremai yang masih cukup jauh ini. Dan kami tetap berjalan paling belakang. Jalur pendakian sudah berupa jalan setapak dengan tanjakan yang belum terlalu ekstrim. Kanopi pepohonan pun tak terlalu rapat, sehingga sinar matahari masih bisa masuk di antara celah-celah dedaunan. Namun hutan di Ciremai menurut ku masih bisa dibilang bagus, terutama jika dibandingkan dengan hutan di gunung-gunung di Jawa Tengah.

Jalur selepas Pos 1 Arban
Jalur selepas Pos 1 Arban   (foto oleh : @afvendiant)

Perjalanan dari pos 1 ke Pos 2 adalah etape terpanjang di antara pos-pos lainnya. Kami baru sampai di Pos 2 pukul 14.30. Pos 2 bernama Tegal pasang, berada pada ketinggian 1940 mdpl. Seperti biasa, karena kami tim penyapu, kami beristirahat dulu sambil menunggu peserta yang juga masih duduk-duduk melepas lelah. Lima belas menit berhenti di Pos 2, kami melanjutkan lagi pendakian menuju pos 3.

Jalur menuju pos 3 juga masih relative sama dengan sebelumnya, namun ada beberapa tanjakan yang lebih curam dan panjang. Selepas Pos 2, banyak kulihat Calanthe flava yang jumlahnya masih cukup banyak. Ada yang berupa daun saja, ada yang kuncup, ada yang mekar, ada juga yang sudah berupa seed pot, bunga yang sudah layu dan membentuk kantong biji. Selain anggrek kuning ini, yang terpantau di sekitar jalur pendakian kebanyakan adalah Jamur dan Lumut. Banyaknya jenis jamur mungkin dikarenakan lembabnya tanah dan udara karena sudah mulai masuk musim penghujan. Sungguh indah warna-warni dan beragam bentuknya. Sepertinya harus mulai mempelajari tentang identifikasi Jamur. 😀

berJamur (Foto oleh : @afvendiant)
berJamur (Foto oleh : @afvendiant)
Jamur an (Foto oleh : @afvendiant)
Jamurnya ada Wijennya 😀 (Foto oleh : @afvendiant)

Sekitar pukul 15.20, kami sampai di Pos Bayangan, yang berupa tanah datar cukup untuk beberapa tenda. Kami yang tadi berjalan paling belakang pelan-pelan menyusul dan menyalip rombongan ‘ibu-ibu PKK’ yang cukup sering berhenti/ beristirahat. Setelah melewati Pos Bayangan ini, kami disambut oleh tanjakan sedaap. Tanjakannya asoy sekali sodara-sodara. Tanjakan yang didominasi undakan tanah dan akar-akar pohon hingga sampai Pos 3 itu kami lewati sekitar 10 menit saja. Memang tidak jauh, namun terasa di paha dan betis. Setelah waktu Ashar, tepatnya Pukul 15.30, kami sampai di Pos 3, Tegal Masawa. Peserta yang tadi berjalan di depan terlihat sudah duduk-duduk, ada yang hammock-an juga. Kamipun bergabung duduk dan melepaskan ransel kami. Mengistirahatkan pundak dan punggung untuk sementara waktu sambil menunggu rombongan terakhir yang kami salip sebelum tanjakan sedaap. Cuaca di Pos 3 masih cerah, namun kadang kabut datang, lalu hilang lagi. Pos 3 berupa dataran cukup luas, banyak tempat datar untuk mendirikan tenda. Tempatnya menurutku asik, adem, kanopinya juga cukup rapat.

Istirahat dio Pos 3, Tegal Masawa (foto oleh : @afvendiant)
Istirahat dio Pos 3, Tegal Masawa (foto oleh : @afvendiant)

Di Pos 3 indah, salah satu panitia, terlihat kurang sehat di bagian perut dan kakinya juga mungkin mulai keram karena mendaki tanjakan-tanjakan cukup curam. Beberapa teman sudah membantu memijit kaki, sebagian lainnya meledeknya dengan semangat. Sampai Kesal dan membalas, “Udah deh jangan bercanda.” 😀 Halo Ndah. Nggak usah nangis. wkkwkk

Cukup lama kami berhenti di Pos 3, selain menunggu tim belakang yang cukup lambat, recovery tubuh Indah pun tidak berjalan sesuai harapan. Selain Indahnya yang ngeyel disuruh makan ini nggak mau, dikasih makan itu nggak mau, juga karena semakin lama duduk tanpa aktifitas, sehingga suhu tubuh akan turun  karena udara dingin di ketinggian. Jadinya ya akan susah tubuh kembali fit jika diri kita sendiri tidak mau mengusahakannya.

"Indah nggak usah nangis!" wkkwkk
“Indah nggak usah nangis!” wkkwkk
Pos 3 Tegal Masawa, Gunung Ciremai via Apuy (Foto oleh : @afvendiant)
Pos 3 Tegal Masawa, Gunung Ciremai via Apuy (Foto oleh : @afvendiant)

Karena sudah cukup lama berdiam diri, akhirnya diputuskan peserta lain yang membawa tenda dan tubuhnya fit untuk berjalan lebih dulu ke Pos 4 atau 5, untuk mencari tempat mendirikan tenda karena jumlah pendaki yang mendaki hari itu cukup banyak. Sisanya, kami tim penyapu, indah, dan teman indah masih stay di Pos 3 sambil menunggu kondisi Indah membaik dan juga menunggu rombongan yang masih di belakang. Sambil ngemil dan berjemur di sinar mentari sore yang berhasil menembus celah kanopi hutan. Ah, nikmatnya..

***

Lanjutt...
Lanjutt…

Sekitar pukul 16.55 kami mulai berjalan lagi setelah Indah merasa mampu untuk melanjutkan perjalanan. Tanjakan ringan hingga cukup curam mesti kami lewati untuk bisa sampai di Pos selanjutnya. Melihat situasi dan kondisi, sepertinya tim akan mendirikan tenda di Pos 4 karena waktu sudah hampir gelap.

Di tengah perjalanan menuju Pos 4, kami berhenti sejenak menikmati sunset yang terlihat di antara cabang dan batang pepohonan. Lumayan untuk mengobati lelah dan suntuk. Setelah itu, kami pun mengeluarkan headlamp (senter kepala) kami karena kanopi hutan cukup rapat, sehingga sisa-sisa sinar senja tak bisa masuk ke dasar hutan. Selepas sunset, aku tak lagi melihat kanan-kiri jalur untuk mencari keanekaragaman hayati, karena pikiran sudah fokus ingin segera sampai di Pos 4, mendirikan tenda, memasak, dan merebahkan badan.

Bagus sedang 'menikmati' perjalanan (Foto oleh : @afvendiant)
Bagus sedang ‘menikmati’ perjalanan (Foto oleh : @afvendiant)
Menikmati Senja di Jalur Pendakian (Foto oleh @afvendiant)
Menikmati Senja di Jalur Pendakian (Foto oleh @afvendiant)

Sayup-sayup suara terdengar dari depan atas kami, pertanda kehidupan (baca : perkemahan) sudah dekat. Akupun memacu kaki untuk melangkah lebih cepat diantara gelap, dengan senter kepala yang menerangi jalanku. Akhirnya tenda-tenda terlihat. Kami sampai di Pos 4 sekitar Pukul 18.05. Sebagian peserta yang sudah sampai sudah mendirikan tenda mereka. Akupun membantu beberapa kelompok yang sedang mendirikan tenda. Setelah itu aku dan Bagus segera mencari tempat yang datar untuk mendirikan tenda kami sendiri.

Pos 4 Tegal Jamuju (Foto Oleh :@afvendiant)
Pos 4 Tegal Jamuju (Foto Oleh :@afvendiant)

Setelah tenda berdiri, kami segera masak air untuk minum kopi sachetan sekedar untuk menghangatkan tubuh dari udara dingin di Tegal Jamuju. Sambil berbincang dengan beberapa peserta pendakian yang juga  sedang asik memasak air untuk mengahangatkan tubuh mereka.

Setelah cukup bercengkerama dengan teman-teman, kami segera kembali ke tenda kami dan mulai membongkar logistik kami karena kami akan memasak untuk makan malam kami. Namun, ternyata logistik untuk panitia dan sponsor yang katanya sudah disiapkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan panitia dan sponsor hingga esok siang. Hal tersebut terjadi karena kurangnya koordinasi. Akhirnya malam itu kami, aku dan Bagus, hanya makan malam dengan sebungkus mie instan ditambah dua buah nasi lontong di tambah beberapa cemilan. Setidaknya cukup mengganjal perut hingga esok pagi.

Suasana Camp Pos 4 Ciremai via Apuy / Tegal Jamuju (Foto oleh : @afvendiant)
Suasana Camp Pos 4 Ciremai via Apuy / Tegal Jamuju (Foto oleh : @afvendiant)

Setelah selesai makan, kami segera mengatur bagian tenda satu lapis kami itu dan segera mengambil posisi tidur, karena badan sudah ingin segera direbahkan sedari tadi. Di luar tenda, rombongan lain masih terdengar cukup ramai, asik dengan obrolan dan candaan mereka sendiri. Dan kami segera masuk ke dalam Sleeping bag (SB) kami, dan mencoba untuk tidur dengan cepat. Karena semakin lama kita tidur, semakin jauh kaki kita sanggup melangkah. Begitu kata Hong-Gil Um (diperankan oleh Hwang Jung-min), tokoh utama dalam film The Himalayas.

Belum sempat tertidur lelap, tiba-tiba ada sesosok makhluk penghuni Jalur Pendakian Apuy masuk tenda dan ‘mendesel’ di tengah-tengah antara Aku dan Bagus. Tenda yang nyaman untuk 2 orang, kini jadi berdesak-desakan karana ada tambahan ‘tamu tak diundang’. Dialah Imin alias Jawir, yang baru saja ‘terusir’ dari hammock merah di samping tenda kami. 😀 Lalu kulanjutkan tidurku, sementara udara dingin Ciremai semakin menembus SB murahku.

LANJUT KE PART 2

loading...

About afvendiant

Check Also

Ngopi di Campsite Gunung Andong, 19 Mei 2013 (foto oleh : @afvendiant)

BETAPA ENAKNYA NAIK GUNUNG ANDONG JAMAN DULU

BETAPA ENAKNYA NAIK GUNUNG ANDONG JAMAN DULU Naik Gunung. Berbicara tentang naik gunung, yang terlintas …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

this is a cache: 0.00268