Selasa , Desember 12 2017
Home / Catatan Perjalanan / CIREMAI : Sekali lagi (part 2)

CIREMAI : Sekali lagi (part 2)

Puncak Ciremai 3.078 mdpl

CIREMAI : Sekali Lagi (Part 2)

BACA PART 1 DI SINI

* * *

‘Bangun-Bangun! Ayo Summit!” entah suara siapa yang membangunkan kami sambil membuka pintu tenda kami. Tapi kami masih malas dan tetap meringkuk dalam SB.

“Ayo, mau muncak enggak?” suara itu datang lagi, kali ini sambil menggoyang-goyang tubuhku yang berada di depan pintu.

“Hmm.” Hanya itu jawaban kami, tanda bahwa kami masih berat untuk bangun dan keluar dari SB kami.

Akhirnya semua anggota rombongan kecuali kami berangkat untuk mendaki Puncak Ciremai pada 03.30 pagi. Dan kami kembali mencoba memejamkan mata, namun ternyata sudah tidak bisa. Bagus yang ‘ngebet’ ingin menyelesaikan misinya pun memaksa kami bangun untuk summit. Dan akhirnya, kami bangun, menyiapkan mantol, air, cemilan dan headlamp kami. Baru sekitar pukul 04.20 kami mulai berjalan meninggalkan camp kami di Pos 4 menuju Puncak tertinggi Jawa Barat.

Summit Attack Ciremai via Apuy (Foto oleh : @afvendiant)
Summit Attack Ciremai via Apuy (Foto oleh : @afvendiant)

Kami mulai berjalan dengan pelan sebagai pemanasan. Jalur dari Pos 4 ke Pos 5 masih relative landai di awal, baru nanjak sedang kemudian. Jalur ini mirip dengan jalur dari Pos 5 Palutungan, Pesanggrahan 2, menuju Sanghyang Ropoh dan Simpang Apuy. Tubuh terasa ringan karena tanpa beban. Aku hanya membawa tas selempang kecilku. Udara pagi itucukup dingin, tetapi badanku terasa cukup hangat namun tak berkeringat walaupun aku memakai baselayer, kaos, dan jaket 2 lapis. Sarung tangan dan kupluk tebal juga tak lupa, karena jari tangan dan kuping adalah organ yang paling mudah terasa dingin jika tak ditutupi. Untuk alas kaki, aku hanya memakai sepatu jogging Spotec, merek lokal tapi yang pasti original. Ringan, nyaman, dan outsole minim-nya cukup untuk mencengkeram tanah lembab tanpa takut terpeleset.

Pos 5 Sanghyang Rangkah (Foto Oleh : Bagus)
Pos 5 Sanghyang Rangkah (Foto Oleh : Bagus)

Langkah demi langkah, kami sampi di Pos bayangan 1, Lalu Pos Bayangan 2, aku dan Bagus berhenti untuk Sholat Subuh, sementara Imin melanjutkan perjalanannya. Setelah selesai, kami segera menyusul Imin, melewati Pos 5 yang menjadi tempat camp terakhir yang diperbolehkan di jalur pendakian Ciremai via Apuy. Banyak tenda warna-warni, beraneka merek dan bentuk. Pos 5 berupa dataran cukup luas, terbuka tanpa kanopi. Dari Pos 5 ke Puncak Ciremai membutuhkan waktu sekitar 2-3 jam. Kami hanya singgah sebentar untuk berfoto beberapa jepretan dan mencatat waktu sampainya kami di sana, 05.19.

Sunrise di atas Pos 5 (Foto oleh : @afvendiant)
Sunrise di atas Pos 5 (Foto oleh : @afvendiant)
Pemandangan Cikurai dkk (Foto oleh : @afvendiant)
Pemandangan Cikurai dkk (Foto oleh : @afvendiant)

Tak berapa berjalan dari Pos 5, terlihat Imin sedang berhenti bersama sesosok berpakaian hampir serba merah, yang ternyata adalah Indah. Setelah berbincangbincang, ternyata Indah mengalami sakit lagi di bagian perutnya. Bagus pun berinisiatif memberi Indah obat yang dibawakan mbak-mbak jurusan kesehatan. ;D namun indah malah menolak dengan alasan tidak bisa minum obat yang masih berupa pil/ masih utuh. Karena tidak ada sendok untuk menggerus, akhirnya aku keluarkan cutter dan memotong-motong obat tersebut menjadi serpihan-serpihan kecil, walaupun tak sehalus obat yang digerus dengan sendok. Setelah itu kami paksa Indah untuk meminumnya, namun ternyata memang susah. Obat yang sudah dicoba diminum keluar separuh bersama air mineral.

Indah (merah) Imin (Oren) Bagus (Biru) beristirahat di atas Pos 5 (Foto oleh : @afvendiant)
Indah (merah) Imin (Oren) Bagus (Biru) beristirahat di atas Pos 5 (Foto oleh : @afvendiant)

Setelah berdiskusi cukup lama, kami sarankan Indah turun ke Pos 5, beristirahat di tenda salah satu rombongan kami yang kebablasen sampe pos 5 dan nge-camp di sana. Namun lagi-lagi Indah menolak. Ia ingin tetap melanjutkan pendakian hingga puncak. Akhirnya kami berjalan pelan mengiringi Indah mendaki tanjakan demi tanjakan, sembari tetap membujuk Indah untuk kembali saja, toh puncak tak akan kemana-mana.

Sekitar pukul 6 kurang, di kejauhan kami melihat segerombolan Surili Jawa (Presbytis comata) bergelantungan di pepohonan di dekat jalur Palutungan. Semakin dekat kami melihat, hanya tinggal 2 ekor yang masih di sana. Seekor Surili terlihat duduk dengan tenang di atas dahan, menghadap ke arah Cikurai. Seolah-olah sedang menikmati pemandangan pagi yang menawan, dengan Gunung Cikurai, Papandayan, dan Guntur di kejauhan sana. Sangat tenang. Kami mungkin hanya berjarak sekitar 10 meter saja. Namun apa daya, kamera HP kami tak mampu mengabadikannya menjadi foto yang jelas. Namun aku yakin itu Surili Jawa, Imin pun mengiyakan karena dia sudah ratusan kali naik-turun Ciremai melalui jalur ini.

Surili Jawa (Presbytis comata) sedang menikmati pemandangan Cikurai (Foto oleh : @afvendiant)
Surili Jawa (Presbytis comata) sedang menikmati pemandangan Cikurai (Foto oleh : @afvendiant)

Setelah cukup ‘menikmati’ Primata endemik Jawa ini, aku melanjutkan perjalanan. Menyusul ketiga teman yang sudah berjalan lebih dulu. Tak berapa lama akupun berhasil menyusul mereka karena perjalanan mereka cukup lambat. Aku dan Bagus pun memutuskan untuk berjalan lebih dulu karena panitia di depan hanya tinggal Mas Roja saja. Sementara Imin akan mem-back up Indah sampai Indah ‘menyerah’.

* * *

Aku sampai simpang Apuy pada pukul 06.56, kemudian duduk, menikmati kehangatan sinar mentari pagi juga pemandangan Cikurai dan kawan-kawannya. Setelah Bagus sampai dan beristirahat sebentar, kami bergegas mendaki tanjakan menuju Pos 6, Goa Walet. Tanjakan dari Simpang menuju Goa Walet, kemudian ke Puncak Ciremai adalah tanjakan-tanjakan terjal. Lebih terjal dibandingkan dengan Pos-pos sebelumnya. Sebelum Pos Goa Walet, kami melihat rombongan Ibu-ibu PKK yang juga masih berjuang mendaki jalur yang di beberapa tempat licin karena kerikil. Kamipun beristirahat bersama di atas Goa Walet pukul 07.27. di pos Goa Walet,  angin cukup kencang bertiup, meniup debu-debu hingga tak sedikit yang masuk ke mataku.

Di Simpang Palutungan-Apuy (Foto Oleh : Bagus)
Di Simpang Palutungan-Apuy (Foto Oleh : Bagus)
Ibu-ibu PKK saat sampai di Pos Goa Walet (Foto oleh : @afvendiant)
Ibu-ibu PKK saat sampai di Pos Goa Walet (Foto oleh : @afvendiant)
Pos 6 Goa Walet (Foto oleh : @afvendiant)
Pos 6 Goa Walet (Foto oleh : @afvendiant)

Aku dan Bagus kembali melanjutkan pendakian yang mungkin tinggal setengah jam lagi. Jalur di atas Goa Walet cukup padat, banyak pendaki yang sudah turun dari puncak, banyak pula yang masih berusaha menggapai puncak. Akhirnya harus bergantian karena di beberapa bagian, jalur sempit atau tidak memungkinkan untuk naik dan turun sekaligus. Macet. Macam di kota saja.

Jalur di atas Pos Goa Walet menuju Puncak Ciremai (Foto oleh : @afvendiant)
Jalur di atas Pos Goa Walet menuju Puncak Ciremai (Foto oleh : @afvendiant)

Tanjakan-tanjakan terkhir adalah tanjakan terberat. Kaki sudah semakin pegal, namun semangat untuk menggapai puncak malah semakin membara karana puncak tinggal beberapa meter lagi. Ngos-ngosan.

Akhirnya aku menjejakkan kaki di dataran puncak pada pukul 07.55. Atap Jawa Barat lagi. Ciremai Sekali Lagi. Cukup lama jika dihitung dari waktu berangkat. 3 jam 35 menit. Hampir 2 kali lipat waktu tempuh normal. Hal inilah yang harus sering diperhatikan saat membuat itinerary atau rencana perjalanan. Waktu tempuh antar pos harus dilebihkan terlebih untuk pendakian bersama seperti ini. Banyak hal yang mungkin terjadi dan membuat waktu tempuh menjadi lebih lama dari waktu tempuh normal.

Puncak Ciremai 3078 mdpl (Foto oleh : @afvendiant)
Puncak Ciremai 3078 mdpl (Foto oleh : @afvendiant)
Kawah Gunung Ciremai (Foto oleh : @afvendiant)
Kawah Gunung Ciremai (Foto oleh : @afvendiant)
PLAKAT Puncak MAJAKUNING (Foto oleh : @afvendiant)
PLAKAT PUNCAK MAJAKUNING 3.078 mdpl (Foto oleh : @afvendiant)

Sampai di puncak pun, kami disuguhi pemandangan langka. Pagar besi. Hal ini memang sudah kudengar dari Imin, namun tak kusangka akan seperti ini bentuk pagarnya. Kalo aku bilang, kayak kebun binatang saja. Di media social juga sudah ramai soal dipagarnya kawah puncak ciremai dengan pipa besi. Banyak pro-kontra. Wajar. Namun aku tak akan terlalu membahas itu di sini, terlalu panjang. Semoga nanti bisa kutulis di lain kesempatan.

Pagar Besi di Puncak Ciremai (Foto oleh : @afvendiant)
Pagar Besi di Puncak Ciremai (Foto oleh : @afvendiant)
Pagar Besi di Puncak Ciremai (Foto oleh : @afvendiant)
Berfoto di Pagar Besi di Puncak Ciremai jadi seperti berfoto di Kebun Binatang (Foto oleh : @afvendiant)

Di puncak cuaca cerah. Lautan awan juga terlihat di sisi tenggara. Slamet, Cikurai, Papandayan, Guntur, tampomas pun terlihat dengan birunya. Namun, cerahnya pemandangan tak sejalan dengan angin yang berhembus. Angin bertiup kencang di puncak. Cukup kencang. Sebendel kertas tulisan ‘titip nama’ milik salah satu pendaki langsung beterbangan tersapu angin. Bahkan ada 1 lembar yang mungkin jatuh di sekitar pos 4 Apuy. Suhu udara pun dingin walaupun sinar matahari bersinar cerah. Dan tak sedikit juga debu yang masuk ke mataku. Cerah tapi Badai.

Di Puncak Gunung Ciremai 3078 mdpl (Foto oleh : Bagus)
Di Puncak Gunung Ciremai 3078 mdpl (Foto oleh : Bagus)
MERU Outdoor Cirebon di Puncak Gunung Ciremai 3078 mdpl (Foto oleh : @afvendiant)
MERU Outdoor Cirebon di Puncak Gunung Ciremai 3078 mdpl (Foto oleh : @afvendiant)

Akupun segera mengabadikan kondisi Puncak Ciremai pagi itu. Memfoto berbagai arah, tak lupa pagar kebun binatang warna hijau tua. Dan juga berfoto bersama Bagus dengan Kaos Kebanggaan kami masing-masing. Peserta pendakian bersama pun sudah terlihat sampai di atap Jawa Barat ini, dan sibuk dengan kamera HP sendiri-sendiri. Tak lama kemudian, kamipun berfoto bersama, seadanya peserta yang ada di puncak saat itu. Alhamdulillah semua peserta sampai puncak dengan kondisi sehat, termasuk Ibu-ibu PKK. Hanya Indah dan Imin yang tak terlihat, tak ikut menikmati euphoria puncak bersama-sama.

Karena angin kencang tak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti, Pukul 09.00 akupun memutuskan turun menyususl Bagus yang sudah turun setelah misi-misi kami selesai. Dan juga karena waktu sudah cukup siang, kami harus segera sampai camp dan turun sampai basecamp sebelum petang.

Puncak Gunung Ciremai (Meru Outdoor & panthera Outdoor Gear)
Meru Outdoor & panthera Outdoor Gear di Puncak Gunung Ciremai (Foto oleh : Aditya H)

Turun dari puncak pun kondisi jalur masih cukup padat-merayap. Masih banyak juga pendaki yang akan menuju puncak. Di jalur yang cukup landai dan aman, aku turun dengan sedikit berlari agar lebih cepat sampai. Aku berhasil menyusul Bagus yang sedang duduk di atas Pos Goa Walet, kemudian kami turun bersama menuju camp kami di Pos 4. Turunan curam pun sedikit banyak memperlambat langkah kami. Di tambah antrian turun yang cukup panjang di jalur yang sempit. Kami sampai lagi di Pos 5 pada pukul 09.51. dan sampai di Pos 4 30 menit kemudian.

Pos 5 Ciremai via Apuy (Foto oleh : @afvendiant)
Pos 5 Ciremai via Apuy (Foto oleh : @afvendiant)
'Renan' di Pos 4 Ciremai via Apuy (Foto oleh : @afvendiant)
‘Renan’ di Pos 4 Ciremai via Apuy (Foto oleh : @afvendiant)

BERSAMBUNG…

loading...

About afvendiant

Check Also

Puncak Gunung Ciremai (foto : @afvendiant)

CIREMAI : Sekali Lagi (Part 1)

CIREMAI : Sekali lagi Ciremai Sekali Lagi adalah judul yang terlintas saat mulai menulis (baca …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

this is a cache: 0.0019