Selasa , November 14 2017
Home / Catatan Perjalanan / BETAPA ENAKNYA NAIK GUNUNG ANDONG JAMAN DULU

BETAPA ENAKNYA NAIK GUNUNG ANDONG JAMAN DULU

Ngopi di Campsite Gunung Andong, 19 Mei 2013 (foto oleh : @afvendiant)

BETAPA ENAKNYA NAIK GUNUNG ANDONG JAMAN DULU

Naik Gunung. Berbicara tentang naik gunung, yang terlintas di pikiran adalah Senang, sehat, teman, sunrise, momen, camping, puncak, dingin, kabut, kebersamaan, refreshing, dan masih banyak lainnya. Dulu sewaktu masih kuliah, aku punya banyak waktu untuk dihabiskan dengan naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali. Namun kini, tuntutan pekerjaan dan tanggung jawab sebagai kepala keluarga membuatku tak bisa seenak jidat tiap weekend berkelana mencari udara dingin ke ketinggian. Rindu jaman dulu? Pasti. Terlebih sekarang teman-teman mendakiku dulu sudah berpencar di persimpangan, memilih ‘jalurnya’ sendiri-sendiri. ‘Menaklukkan gunungnya’ sendiri-sendiri. Mengarungi petualangan terbaiknya sendiri-sendiri. Begitu juga aku, aku bersyukur berada di saat sekarang ini. Mengarungi petualangan panjangku sendiri. :)

Andong Jaman Past, Masih sepi, masih hijau (foto oleh : @afvendiant)
Andong Jaman Past, Masih sepi, masih hijau (foto oleh : @afvendiant)
salah satu pendakian bersama kawan-kawan PMTG adventure, 25 Agustus 2013 (foto : PMTGadventure.com)
salah satu pendakian bersama kawan-kawan PMTG adventure, 25 Agustus 2013 (foto : PMTGadventure.com)

Saat rindu dengan teman-teman, atau momen-momen pendakian bersama mereka, atau rindu dengan keindahan gunung-gunung yang pernah kudaki, yang bisa kulakukan sekarang hanyalah melihat foto-foto pendakian jaman past. Dulu, paling sering kuhabiskan waktu camping di gunung adalah di Gunung Andong. Selain karena gunungnya tidak terlalu tinggi, jarak tempuhnya tidak lama, juga karena pemandangan dari atas gunungnya (bukitnya) yang juara, setidaknya menurutku pribadi. Pemandangan 360 derajat gunung-gunung di Jawa Tengah yang lebih tinggi, hampir semua bisa dilihat dari puncak Gunung Andong yang hanya berketinggian 1726 mdpl (meter di atas permukaan laut) *menurut plang yang dipasang di puncaknya. Kalau menurit perhitungan GPS (Global Positioning System) pada saat penelitian ‘nyonya’ tentang Anggrek Tanah Gunung Andong yaitu 1755 mdpl). Untuk mencapai puncaknya kita hanya butuh waktu sekitar 2 jam, tergantung kondisi dan fisik pendaki. Jalurnya relatif landai, dengan variasi medan dan pemandangan, sehingga tidak ada bosannya ‘olah raga’ di gunung ini.

Misyu, Gaes. (foto : Timer/ PMTGadventure.com)
Misyu, Gaes. (foto : Timer/ PMTGadventure.com)
Turun Gunung, 31 Maret 2013 (Foto oleh : @afvendiant)
Turun Gunung, 31 Maret 2013 (Foto oleh : @afvendiant)

Tempat mendirikan tendanya masih ditumbuhi rumput yang cukup tebal, sehingga masih nyaman untuk duduk-duduk sembari berbincang bersama teman, ataupun sekedar ngopi menikmati pagi di tempat tinggi. Di sekeliling campsite / camp area juga masih ditumbuhi semak-semak yang cukup tinggi. Cukup untuk menghalau angin kencang yang berhembus. Serta jadi tempat buang air yang gampang dan nyaman. Pengunjung yang mendaki dan bermalam di Gunung Andong pun belum banyak. Kadang malam Minggu hanya ada 2 sampai 4 tenda, kadang 4 tenda itu pun tenda kami semua. Mau mulai tracking pagi, siang, sore, ataupun malam pun masih bisa memilih tempat camp yang nyaman, tidak perlu takut tidak dapat tempat untuk mendirikan tenda. Saat itu belum banyak ‘pendaki’ yang melirik, karena Andong itu cuma bukit kecil dibandingkan Merbabu, Merapi, Sumbing, Sindoro, bahkan Ungaran.

Makan di atas rumput Campsite Andong,29 Juni 2012 (Foto oleh : Timer/ Mang Unrung Biolaska)
Makan di atas rumput Campsite Andong, 29 Juni 2012 (Foto oleh : Timer/ Mang Untung Biolaska)
Serasa Gunung Milik Berdua. :D (foto oleh : Mas Omen Biolaska)
Serasa Gunung Milik Berdua. 😀 14 Oktober 2012 (foto oleh : Mas Omen Biolaska)

Dulu di Gunung Andong juga belum ada basecamp, motor dititipkan di rumah pak Bayan (pak Kadus) Sawit. Biaya retribusinya pun tidak ada alias  gratis. Hanya, beberapa pendaki yang ‘tanggap’ akan memeberikan sedikit bingkisan berupa gula-teh sebagai ucapan terima kasih atas kebaikan Pak Kadus dan keluarga. Bayangkan saja, kita sebagai tamu yang menitipkan motor, dijamu dengan teh hangat dan cemilan, bahkan kadang disuruh makan. Aku bahkan beberapa kali sampai rumah Pak Bayan tengah malam, juga diterima dengan ramah. Keramahan yang benar-benar masih bisa dirasakan di era modern saat itu. Ngomong-ngomong soal Pak Bayan, lama juga tak bertemu dengan Beliau. Semoga sehat dan panjang umur ya Pak. Semoga  ada kesempatan untuk silaturahmi dan berbincang suatu hari nanti. Aamiin.

Saat campsite masih Bok*ng Friendly karena masih ditumbuhi rumput tebal, 3 Juli 2012 (Foto oleh : @afvendiant/ BEM Pbio UIN Jogja 2012)
Saat campsite masih Bok*ng Friendly karena masih ditumbuhi rumput tebal, 3 Juli 2012 (Foto oleh : @afvendiant/ BEM Pbio UIN Jogja 2012)
Pak Bayan (Pak Kadus Sawit) saat menyambut acara Penanaman di Gunung Andong oleh BEM Pendidikan Biologi UIN Jogja (Foto : @afvendiant/ BEM Pbio UIN Jogja)
Pak Bayan (Pak Kadus Sawit) saat memberi Sambutan di Rumah Beliau saat Rangkaian acara Penanaman di Gunung Andong oleh BEM Pendidikan Biologi UIN Jogja, 2-3 Juli 2012 (Foto : @afvendiant/ BEM Pbio UIN Jogja 2012)

Betapa enaknya naik gunung Andong jaman dulu. Gunung Andong Januari 2012-Juni 2014.

loading...

About afvendiant

Check Also

Emergency Blanket Thermal Bivvy Selimut Darurat

EMERGENCY BLANKET : Keselamatan di Dalam Saku

Emergency Blanket atau Selimut Darurat adalah salah satu Survival Kit (Peralatan Bertahan Hidup) / Emergency …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

this is a cache: 0.00256